Mari Bantu Sesama

Roti Goreng Pelipur Duka

| 0 comments

Bencana alam kerap terjadi di negeri ini, dan setiap bencana menyisakan kepedihan mendalam bagi para korban. Tak hanya lantaran kehilangan anggota keluarga yang dicintai, tetap status semi permanen yang berubah dalam sekejap. Pengusaha berubah menjadi orang yang tak punya apa-apa, dermawan yang tiba-tiba harus mengemis meminta bantuan, serta orang-orang yang biasa berkecukupan seketika sangat berkekurangan, untuk mendapatkan makan pagi pun menunggu jatah. Kehidupan pun berubah drastis, rumah mewah tersulap menjadi tenda darurat yang harus berbagi tempat dengan ribuan korban lainnya.

Hal ini pula dialami Dwi Harini, 39 tahun, salah satu korban erupsi Gunung Merapi 26 Oktober 2010 lalu. Wanita yang biasa disapa Mbak Dwi ini, sehari-hari bekerja sebagai pedagang serabutan di pasar Margorejo, Turi, Sleman. Yang dijual Mbak Dwi pun tergolong serabutan juga, kadang kelapa dan berbagai variasinya: kambil, janur kuning, sabut kelapa. Kadang juga aneka macam kue, atau buah-buahan yang sedang musim. Sedangkan Parman, sang suami mengais rejeki sebagai pemetik kelapa. Buah kelapa yang dipetik kemudian diangkut truk untuk dibawa ke kota Yogyakarta.

Mbak Dwi mengungkapkan, saat Merapi meletus, pasar salak lesu. Selain karena banyak pohon salak yang rusak, harga buah yang berkualitas tinggi pun anjlok. Ia pun sempat bingung, setelah Merapi mereda akan berjualan. “Tapi setelah pelatihan pembuatan roti goreng di posko oleh relawan Lembaga Manajemen Infaq – LMI, saya optimis dan punya harapan,” kata ibu empat anak ini.

Mbak Dwi dan keluarga adalah salah satu pengungsi di posko balai desa Margomulyo, kecamatan Seyegan. Di posko inilah para relawan LMI yang tergabung di tim berjuang memberikan pelatihan-pelatihan dan modal usaha.

“Untuk pasca bencana Merapi program LMI di fokuskan ke pemberdayaan ekonomi. Sebab sejatinya mereka bukan orang-orang yang akan menjadi penerima bantuan terus menerus, para korban bencana itu akan segera terbebas dari status penerima bantuan dalam waktu yang tidak terlalu lama asalkan mereka dijadikan mandiri,” kata Dodi Kurniawan, relawan LMI, di sela-sela pelatihan.

Pria lajang ini menjelaskan, “Ada sebelas orang di posko ini yang mengikuti pelatihan. Selama pelatihan pembuatan roti goreng, Mbak Dwi adalah pengungsi yang paling bersemangat. Di kala ibu-ibu yang lain lebih memilih untuk tidur-tiduran di balai desa, Mbak Dwi memilih begadang sampai malam memahami proses produksi roti goreng.”

Mengetahui bahwa alat produksi ini nanti akan diberikan padanya, Mbak Dwi begitu bahagia dan tidak bisa berkata-kata lagi. Ia merasa punya potensi untuk membuat dan menjualnya di pasar, tetapi kesulitan modal. Dengan bantuan alat produksi tersebut Mbak Dwi semakin optimis menjalani hidup setelah letusan Merapi ini.

“Waktu pelatihan sempat tidak percaya ketika diberi tahu harga alat-alat produksinya mencapai Rp 3 juta. Itu jumlah uang  yang sangat besar. Apalagi dengan kondisi saat ini saya dan suami harus menghidupi empat anak,” ungkap Mbak Dwi sambil membasuh air mata yang menetes karena haru.

Diambil dari Lembaga Manajemen Infaq

Leave a Reply

Required fields are marked *.

*